Ibuku mempunyai kebiasaan yang menurutku cukup aneh setiap kali Lebaran tiba. Kubilang aneh karena kebiasaan itu berbeda dengan umumnya kebiasaan orang lain dalam menyambut Lebaran. Biasanya, orang-orang setiap selesai salat Idul Fitri bersilaturrahim ke rumah sanak-saudara yang masih hidup atau berziarah ke kuburan keluarga yang telah meninggal. Tetapi tidak dengan ibuku. Setiap selesai salat Idul [...]
Arsip untuk ‘Prosa’ Kategori
Sebuah Pengakuan
Diposkan dalam Prosa, Label diskriminasi, Gestok, komunis, PKI, stigma, tapol, tragedi 1965 pada 4 Januari 2011 | 2 Komentar »
Bib Ali
Diposkan dalam Prosa, Label cerpen, islami pada 8 November 2008 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Di kota kecil yang menyimpan banyak kenangan sepanjang tarikan napasku ini tinggallah seorang ulama yang cukup disegani dan menjadi tempat meminta nasihat orang-orang yang tengah dirundung berbagai persoalan hidup. Namanya Habib Ali bin Yahya bin Ahmad Al Athas. Namun, orang-orang lebih sering memanggilnya dengan Bib Ali saja. Habib adalah panggilan untuk seorang ulama yang mempunyai [...]
Laut
Diposkan dalam Prosa, Label cerpen, G30S, Gestok, PKI, rekonsiliasi pada 8 November 2008 | 2 Komentar »
Yang dilihatnya hanyalah gelombang yang menepi di hamparan pasir yang kemudian menghanyutkan lamunannya ke sebuah peristiwa 39 tahun silam ……….. *** Oktober 1965
TERMINAL
Diposkan dalam Prosa, Label cari kerja, cerpen pada 8 November 2008 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Bus yang membawaku dari kota kelahiran menuju Jakarta terasa melambat ketika memasuki terminal Tegal. Matahari bersinar garang membuat kabin bus yang berisi penuh penumpang ke berbagai tujuan terasa seperti oven. Ditambah lagi dengan bau keringat para penumpang semakin membuatku ingin segera tiba di Jakarta. Namun, perjalanan masih separuh lagi. “Sabar” kataku dalam hati, mencoba untuk [...]
Lelaki Tua di Sudut Sekolah
Diposkan dalam Prosa, Label cerpen, G30S, Gestok, PKI, rekonsiliasi pada 8 November 2008 | Tinggalkan sebuah Komentar »
Saat aku mendapat kabar dari kepala sekolahku bahwa permohonan mutasiku dikabulkan, perasaanku seperti seorang musafir yang menemukan sebuah oasis di tengah padang pasir yang luas setelah berhari-hari tidak merasakan kesegaran setetes air. Keinginanku selama ini untuk menghabiskan lima tahun sisa masa kerjaku di kampung halamanku sendiri akhirnya menjadi kenyataan. Awalnya, istri dan anak-anakku keberatan dengan [...]