Feeds:
Artikel
Komentar

Archive for the ‘Kuliah’ Category

KELAS KATA


Kelas kata adalah pengelompokan kosakata sebuah bahasa yang dilakukan oleh ahli bahasa. Pembagian kelas kata dalam bahasa Indonesia pertama-tama diperlukan untuk kepentingan pendeskripsikan sistem bahasa, namun juga diperlukan untuk pembelajaran bahasa. Maka pembagian kelas kata bisa dimuat dalam buku tatabahasa, baik tatabahasa terknis maupun tatabahasa pedagogis. Menurut Van Ophuijsen, mengelompokan sepuluh jenis kata, yakni:

  1. Nomina substantiva
  2. Nomina adjectiva
  3. Pronomina
  4. Numeralia
  5. Article
  6. Verba
  7. Adverbia
  8. Conjuncties
  9. Preposities
  10. Interjecties

Menurut Samsuri (Tata Kalimat Bahasa Indoneisa, 1985), kelas utama terdiri dari :

  1. Kategori nomina
  2. Kategori verba yang mencakup kategori verba dan kategori ajektiva, dan
  3. Kategori numeralia

 

Pengertian kelas kata

Kosakata sebuah bahasa dapat diumpamakan siswa sebuah sekolah. Pemilihan menjadi kelas-kelas itu sama-sama didasarkan kepada perbedaan gejala. Pada kelas kata perbedaan itu tentu saja adalah perbedaan gejala bahasa. Kelas kata yang berbeda gejalanya berbeda. Akan tetapi didalam sebuah kelas kata memiliki gejala yang sama. Kalau gejalanya tidak sama, tentu termasuk kelas kata lain. Kata-kata yang menyatakan konsep, maknanya bersifat konseptual karena konsep-konsep itu mengacu kepada maujud tertentu. Maka kata yang konseptual sekaligus konseptual. Contohnya Atik, pergi, dan mall merupakan kata utama dalam pembentukan satuan gagasan. Makna setiap kata atau yang setara dengan kata disebut makna leksikal. Makna leksikal itu meliputi makna konseptual/referensial dan makna fungsional.

Prapembagian Kelas Kata

Keseluruhan kosakata terpilih menjadi dua, yakni :

  1. Kosakata yang maknanya bersifat konseptual/referensial yang dalam pembentukan satuan-satuan gagasan merupakan unsur utama
  2. Kosakata yang makna fungsional yang dalam satuan bertugas merangkai atau menadampingi unsur utama

Kosakata utama merupakan kata yang menyatakan kosakata tentang :

  1. Sesuatu yang dalam tata bahasa lama disebut kata benda (nomina)
  2. Tindakan, proses, dan keadaan yang dalam tata bahasa lama disebut kata kerja (verba)
  3. Kualitas, keadaan, sifat, warna, yang dalam tata bahasa lama disebut atau kata keadaan (ajektiva)
  4. Kuantitas, yang dalam tata bahasa lama disebut kata bilangan (numeralia)

Pembagian Kelas Kata

Pengelompokan kata sangat diperlukan, yakni :

  1. Untuk memperoleh fokus pengkajian kosakata dari segi morfologis
  2. Untuk membedakan bahwa ciri makna kosakata utama bersandar pada makna konseptual / referensial kata, sedangkan ciri makna kosakata tugas bersandar pada makna fungsional.

Kesamaan ciri bentuk tidak dapat digunakan untuk membedakan kelas kata. Perbedaan ciri bentuk dengan perbedaan ciri makna pun tidak bisa digunakan untuk membedakan kelas kata. Contoh : bertinjau, dan meninju ciri bentuk dan ciri makna berbeda, tetapi tidak termasuk kelas kata yang berbeda.

Kelas Kata Utama

Nomina konsep secara umum mengacu ‘sesuatu’ itu dapat dianggap sebagai ciri makna kategori dalam arti luas. Dalam penentuan kelas kata nomina, ciri makna selalu dikaitkan dengan valensi sintaksisnya. Namun, karena penanda valensi sintaksis itu lebih dari satu, penanda-penanda valensi itu bisa dipilih salah satu atau digunakan semua. Nomina menduduki fungsi subjek, predikat, objek, pelengkap, atau pun keterangan.

Ciri makna kata numeralia meliputi tiga jenis, yakni :

  1. Yang menyatakan kuantitas, yang dapat bergabung dengan kata-kata kelas nomina yang konsepnya substansi tertentu dan tak tertentu, misalnya satu rumah, sepuluh orang, suatu hari, dan beberapa gelas air
  2. Yang menyatakan ‘urutan’, yaitu anak pertama atau anak kesatu, kedua, ketiga, dan seterusnya
  3. Yang menyatakan ‘ kelompok’, misalnya kedua mahasiswa itu, ketiga tokoh itu, dan seterusnya.

 

Kelas Kata Tugas

Menurut Harimurti Kridalaksana menyatakan ada sembilan kata tugas, yaitu :

  1. Kata keterangan (adverbia)
  2. Kata ganti (pronomina)
  3. Kata depan (preposisi)
  4. Kata penghubung (konjungsi)
  5. Kata sandang (artikula)
  6. Kata seru (interjeksi)
  7. Interogativa
  8. Demonstrasi
  9. Katagori fatis

PEMBAHASAN

  1. Kata keterangan (adverbia)

Kategori kata yang mendampingi kata kelas utama, sesama kata tugas, atau keseluruhan klausa. Tugasnya menerangkan kata utama, kata tugas, atau klausa tersebut. Yang menerangkan kata dalam kalimat disebut adverbia intraklausal, sedangkan yang menerangkan klausa disebut adverbia ekstraklaual.

Secara sistematis adverbia itu menerangkan satuan semantis klausa yang ditempatinya. Contoh :

 

  1. Barangkali Ibu sudah menyiapkan makanan untuk kita di rumah.

Kata barangkali bisa diganti dengan sinonimnya : mungkin, letaknya bisa di belakang teman-teman kita.

  1. Sebaiknya dia tidak menghindar bertemu denganku

Adverbia sebaiknya menerangkan klausa kamu datang. Namun letaknya bisa juga dibelakang kamu

  1. Mudah-mudahan besok tidak turun hujan

Adverbia mudah-mudahan itu letaknya bisa di belakang ibu atau di akhir kalimat.

 

  1. Kata Ganti

Kata ganti berupa saya, aku, kita, engkau, anda, ia, dia, dan mereka. Kata ganti terdapat kata ganti petunjuk, kata ganti cara dan keadaan, kata ganti kuantitas, kata ganti tanya, kata ganti tak tentu. Kata ganti penunjuk bertugas mengganti dan menunjuk/mewatasi, sedangkan kata penunjuk hanya menunjuk/mewatasi saja. Kata ganti cara dan keadaan bertugas untuk menggantikan cara atau keadaan yang ada dipihak penutur, dan cara atau keadaan yang ada pihak mitra tutur. Selain itu terdapat kata demikian yang netral dari segi jarak antara penutur dan mitra tutur. Kata ganti kuantitas dijumpai dalam buku cerita ‘ Si Bonong ‘. Kata ganti tanya perlu dibedakan dengan kata tanya, menurut Harimurti (1986:86) kata ganti tanya dimasukan kelas kata kategori interogatif, meskipun kata-kata itu berfungsi sebagai pengganti sesuatu yang ingin diketahui oleh pembaca.

 

  1. Interogativa (kata tanya)

Penempatannya dipisahkan dari kata ganti tanya karena kata tanya tidak menggantikan yang ditanyakan. Kata tanya menanyakan ya tidaknya atau sudah belumnya tindakan dilakukan oleh mitra tutur. Yang termasuk kata tanya ialah apa, kah, tah, bukan, atau kependekannya: kan, gerangan.

Contoh :

  • Siapa yang telah mengirimiku bunga?

 

  1. Imperativa

Kalimat imperativa bisa menyatakan perintah keras atau kasar dan menyatakan perintah yang halus atau sopan. Kalimat perintah ini bisa berupa persilakan atau permohonan dan harapan. Perintah yang bersifat negatif adalah larangan. Kalimat yang menyatakan larangan ini juga termasuk kalimat imperatif. Maka kata jangan lupa termasuk kelas kata imperativa. Larangan keras bisa berupa kata jangan.

Contoh :

  • Tulislah pengalamanmu di kertas folio!

 

  1. Preposisi

Preposisi ada tiga macam yaitu :

  1. Preposisi dasar: di, ke, dari desa, pada waktu itu, tentang kesehatan, dalam hal ini, atas persetujuan, demi uang, oleh dokter, perikemanusiaan, untuk adik, bagai bidadari, bagi saya hal itu wajar
  2. Preposisi gabungan: kepada, daripada
  3. Preposisi berafiks: bagaikan bidadari, seperti patung, mengenai hal itu, menurut pendapat saya, terhadap pendapatnya.

Contoh :

  • Aku pergi bersama Ibu ke rumah nenek.

 

  1. Konjungsi (kata penghubung)

Sebagian besar konjungsi berupa kata dasar. Beberapa kata berafiks se- (sesudah, setelah, sebelum, sehingga) satu kata bersufiks –an (lantaran), dan satu kata berbentuk ulang (kalau-kalau). Jika yang dikehendaki hubungan syarat, maka kata penghubung jika, kalau, atau asal. Jika yang sudah dikehendaki hubungan waktu, digunakan kata ketika, waktu, pada waktu, sesudah, setelah. Hubungan pertentangan digunakan tetapi, namun, dan sedangkan. Hubungan antar kalimat digunakan akan tetapi, hubungan penambahan digunakan dan, serta. Hubungan urutan digunakan lalu, kemudian. Hubungan sebab akibat digunakan sehingga. Hubungan harapan digunakan agar, supaya, biar. Hubungan kondisi terpaksa digunakan meskipun, walaupun, biarpun.

Contoh :

  • Setelah makan, adik tertidur pulas.

 

  1. Interjeksi (kata seru)

Bersifat mandiri terletak didepan klausa yang menjadi penyebab ekspresi perasaan penutur, namun interjeksi terpisah dari klausa tersebut. Jadi interjeksi artinya sifat ekstraklausal, bahkan bisa juga ekstrakalimat. Interjeksi bisa terdapat dalam bahasa lisan. Dalam bahasa tulis interjeksi terdapat dalam cerita yang mengandung wacana percakapan atau dialog.

Contoh :

  • Cuih, tak sudi aku melihat mukamu lagi!

 

  1. Kata Penegas

Kata penengas adalah kata yang menjadi penanda penegasan pertanyaan penutur yang terungkap pada kata, frasa, atau klausa agar pernyataan penutur itu mendapat perhatian mintra tutur. Jadi kata ini tidak menyatakan luapan emosi penutur, seperti yang dinyatakan pada interjeksi (kata seru). Kata penengas yang lain adalah ah, deh, dong, ding, kan, sih.

Contoh :

  • Ah, pasti kamu becanda!

 

  1. Kata Fatis

Kata atau gabungan kata yang secara konvensional merupakan idiom fatis. Idiom itu ada yang satu kata dan yang gabungan kata. Istilah idiom fatis ini diilhami oleh istilah Phatic Communion. Ungkapan klise semacam ini dalam bahasa Indonesia bisa hanya terdiri atas satu kata atau lebih. Misalnya, jika seorang sahabat bertemu dengan sahabatnya berseru dengan riang gembira hallo! Temannya menyambut sapaannya dengan hallo! Juga. Kata hallo tidak mewakili pembicaraan lewat telepon. Begitu juga kata mari tidak untuk mengajak. Kedua kata ini digunakan sekedar tegur sapa.

 

Sistem Morfologi Kelas Kata

Kata yang termasuk satu kataegori morfologis memiliki kesamaan ciri bentuk dan kesamaan ciri makna, dan valensi sintaksisnya karena semua kata dalam sebuah kelas kata memiliki valensi sintaksisnya. Kategori morfologis membentuk jaringan perangkat kategori morfologis. Jaringan perangkat kategori itulah yang merupakan sistem morfologis kelas-kelas kata dalam sebuah bahasa. Kemungkinan kategori dari kelas kata yang berbeda memiliki ciri bentuk yang sama. Kelas kata ditandai oleh valensi sintaksis yang sama berarti kategori-kategori morfologis didalam sebuah kelas kata masing-masing ditandai oleh kesamaan ciri bentuk dan makna serta valensi sintaksisnya. Dari gambaran tersebut, morfologi sebuah bahasa dibatasi oleh lingkup kelas kata yang terdapat didalam bahasa yang bersangkutan. Itu pun masih terbatas lagi, karena kelas kata yang kaya akan fenomena morfologi adalah kelas kata utama. Dalam kelas kata tugas gejala morfologi itu sangat terbatas, bahkan kelas kata tugas hanya ada kata dasar atau kata bersuku satu. Kata dasar termasuk fenomena morfologi. Jadi, kajian morfologi perlu dilakukan untuk semua kelas kata.

Read Full Post »


  1. Pendahuluan

 

Proses pendidikan baik formal maupun nonformal pada dasarnya memiliki peran penting melegitimasi bahkan melanggengkan sistem dan struktur sosial yang ada, juga sebaliknya merupakan proses perubahan sosial yang lebih adil. Peran pendidikan terhadap sistem dan struktur sosial tersebut sangat bergantung pada landasan pendidikan yang mendasarinya.

‘Landasan’ dalam KBBI edisi V memiliki makna ‘tumpuan’ yang juga dapat berarti ‘pijakan’, ‘dasar’, ‘paradigma’ atau ‘alas’. Dengan kata lain, landasan berarti titik tolak atau dasar pijakan dalam memandang sesuatu hal. Dasar pijakan ini dapat bersifat material dan konseptual (asumsi). Oleh karena itu, landasan kependidikan berarti pijakan dasar atau titik tolak praktik dan studi tentang pendidikan.

Landasan pendidikan dapat dilihat dari berbagai sisi antara lain religius, filsafat, sosiologi, antropologi, historis, dan ekonomi. Makalah ini akan membahas landasan pendidikan ditinjau dari sisi filsafat. Adapun filsafat itu sendiri merupakan ‘pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya’.

(lebih…)

Read Full Post »


PENDAHULUAN

 

Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu pembelajaran yang wajib dilaksanakan pada pendidikan di Indonesia. Kurikulum 2013 menempatkan Bahasa Indonesia sebagai penghela mata pelajaran lain dan karenanya harus berada di depan semua mata pelajaran lain. Pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki empat keterampilan berbahasa yang harus dimiliki siswa yaitu keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis (Dalman, 2012:3). Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Bahasa Indonesia merupakan salah satu ilmu yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia serta untuk menguasai ilmu dan teknologi. Sebagai masyarakat Indonesia, penting untuk kita mempelajari dan memahami Bahasa Indonesia secara baik dan benar (Afifah, 2012:2).

Mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting di sekolah. Mata pelajaran Bahasa Indonesia sudah diajarkan mulai jenjang pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, hingga Perguruan Tinggi. Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah diharapkan membantu siswa mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya.

(lebih…)

Read Full Post »


Pendahuluan

Dunia imajinatif yang pengarang ciptakan dalam karyanya memiliki hubungan yang saling berkelindan dengan berbagai peristiwa faktual yang terjadi dalam dunia nyata baik yang dialami sendiri oleh pengarang maupun hasil pengamatan pengarang terhadap lingkungan di sekitarnya. Oleh sebab itu, mengkaji proses kreatif seorang pengarang dalam menciptakan sebuah karya akan sangat membantu kita memahami isi dan pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam karya tersebut.

(lebih…)

Read Full Post »


PENDAHULUAN

Lirik lagu menjadi sebuah kekuatan dalam suatu komposisi musik yang dapat membuat pendengar memberi penilaian baik atau buruk terhadap kualitas lagu tersebut secara keseluruhan. Oleh karena itu, seorang pencipta lagu pasti berusaha menyusun lirik lagu agar dapat menyampaikan pesan yang ingin diekspresikannya kepada publik.

Seorang pengarang lagu dalam menyusun lirik lagunya – secara sadar atau tidak – menggunakan berbagai kiat kebahasaan untuk mencapai tujuan dalam penciptaan lagu tersebut yaitu dapat dinikmati oleh pendengar. Pada umumnya, kiat-kiat kebahasaan yang digunakan dalam lirik lagu bersinggungan dengan pemilihan diksi hubungannya dengan makna suatu kata. Sehingga, kajian linguistik yang banyak digunakan adalah analisis semantik dan pragmatik.

(lebih…)

Read Full Post »


PENDAHULUAN

Arus globalisasi dan modernisasi semakin deras masuk ke seluruh relung kehidupan umat manusia di pelosok dunia, tidak terkecuali bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang terbuka, masyarakat Indonesia tidak bisa lepas dari interaksi dengan bangsa lainnya. Situasi ini membawa dampak positif dan negatif bagi kita karena hal itu kondisi yang tidak bisa kita hindari.

Banyak ahli yang menilai bahwa saat ini bangsa Indonesia tengah berada dalam gempuran arus budaya asing yang mengancam moral, karakter dan jatidiri kita sebagai sebuah bangsa. Pengaruh tersebut menelusup ke seluruh sendi kehidupan bangsa Indonesia melalui berbagai media termasuk bahasa.

(lebih…)

Read Full Post »


Pendahuluan

 

Sastra sebagai salah satu bidang keilmuan – seperti halnya bidang keilmuan yang lain – memiliki kemungkinan untuk berkolaborasi membentuk cabang keilmuan baru sebagai sebuah kajian interdisipliner. Salah satu kajian interdisipliner yang menggabungkan sastra dengan ilmu lain adalah psikologi sastra.

Psikologi sastra sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Meskipun banyak ahli yang memperdebatkan waktu kelahiran psikologi sastra sebagai sebuah ilmu, namun pada umumnya para ahli tersebut bersepakat bahwa kemunculan psikologi sastra dimulai pada saat Sigmund Freud (1886-1939) sebagai dokter banyak membaca sastra sehingga muncul istilah psikologi sastra (Endraswara, 2008:1-2).

Wellek & Warren (2014) dalam buku Teori Kesusastraan mendedahkan empat kemungkinan pengertian psikologi sastra. Pertama, studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi. Kedua, studi proses kreatif. Ketiga, studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra. Dan keempat, mempelajari dampak sastra pada pembaca. Pengertian yang paling berkaitan dengan bidang sastra adalah pengertian yang ketiga.

Pengertian yang hampir senada dikemukakan Daiches dalam Endraswara (2008: 65) yang membedakan penelitian psikologi sastra menjadi tiga cabang, yaitu (a) melalui analisis dunia kepengarangan, (b) melalui analisis tokoh-tokoh dan penokohan, dan (c) penelitian yang berkaitan dengan citra arketipe.

(lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »