Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Prosa’ Category

Kodrah


Pak Wiryo gelisah. Sudah lima batang rokok ia habiskan untuk mengusir kegelisahannya. Namun, hatinya masih belum tenang. Sudah satu minggu ini dia tidak enak makan dan tidur. Bu Wiryo, istrinya, sampai bingung melihat kelakuan suaminya yang tidak seperti biasanya. Kalau ditanya, bukan jawabannya yang ia dapatkan, tapi justru desahan panjang atau umpatan yang tak jelas ujung pangkalnya.

—–

Pak Wiryo adalah lurah Kertosari, sebuah desa kecil namun dikenal sebagai desa penghasil padi terbaik di kabupaten. Beberapa kali Kertosari mendapat penghargaan sebagai desa swasembada beras. Di bawah kepemimpinan Pak Wiryo, Kertosari semakin maju dan terkenal karena kemakmuran dan keberhasilannya meraih prestasi di berbagai bidang.

Sebagai seorang lurah, Pak Wiryo dinilai berhasil oleh warganya sendiri. Oleh karena itu, banyak warga desa yang menghendaki agar Pak Wiryo mau mencalonkan diri lagi sebagai kepala desa pada kodrah lurah yang akan diselenggarakan tiga bulan lagi.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »


Ibuku mempunyai kebiasaan yang menurutku cukup aneh setiap kali Lebaran tiba. Kubilang aneh karena kebiasaan itu berbeda dengan umumnya kebiasaan orang lain dalam menyambut Lebaran. Biasanya, orang-orang setiap selesai salat Idul Fitri bersilaturrahim ke rumah sanak-saudara yang masih hidup atau berziarah ke kuburan keluarga yang telah meninggal.

Tetapi tidak dengan ibuku. Setiap selesai salat Idul Fitri, ibu selalu mengajak seluruh anak-anaknya, aku dan dua kakak laki-lakiku, pergi ke laut. Ya, ke laut yang terletak sekitar lima belas menit perjalanan menggunakan sepeda motor dari rumahku. Tidak pernah ada yang berani membantah atau menentang kebiasaan ibu yang satu ini termasuk kedua kakak laki-lakiku.

Mereka sepertinya tidak memiliki keberanian untuk menentangnya. Bahkan, hanya untuk mempertanyakan alasannya saja mereka tidak berani. Padahal biasanya mereka paling malas jika harus mengantarkan ibu pergi. Hingga usiaku yang ke-16 ini, kebiasaan itu masih saja tetap dilakukan ibu tanpa ada yang pernah membantah atau menentangnya.

Sebenarnya tidak ada yang dilakukan ibuku saat di laut atau lebih tepatnya di pantai itu. Ibu hanya berdiri atau kadang duduk termenung menatap deburan ombak yang berkejar-kejaran sebelum akhirnya berlabuh di bibir pantai yang hitam. Bila sudah seperti itu, aku dan kakak-kakakku tidak ada yang berani mendekati ibu. Lebih tepatnya, tidak peduli dengan apa yang dilakukan ibu.

(lebih…)

Read Full Post »

Bib Ali


Di kota kecil yang menyimpan banyak kenangan sepanjang tarikan napasku ini tinggallah seorang ulama yang cukup disegani dan menjadi tempat meminta nasihat orang-orang yang tengah dirundung berbagai persoalan hidup. Namanya Habib Ali bin Yahya bin Ahmad Al Athas. Namun, orang-orang lebih sering memanggilnya dengan Bib Ali saja. Habib adalah panggilan untuk seorang ulama yang mempunyai garis keturunan menyambung dengan Nabi Muhammad. (lebih…)

Read Full Post »

Laut


Yang dilihatnya hanyalah gelombang yang menepi di hamparan pasir yang kemudian menghanyutkan lamunannya ke sebuah peristiwa 39 tahun silam ………..

***

Oktober 1965

(lebih…)

Read Full Post »

TERMINAL


Bus yang membawaku dari kota kelahiran menuju Jakarta terasa melambat ketika memasuki terminal Tegal. Matahari bersinar garang membuat kabin bus yang berisi penuh penumpang ke berbagai tujuan terasa seperti oven. Ditambah lagi dengan bau keringat para penumpang semakin membuatku ingin segera tiba di Jakarta. Namun, perjalanan masih separuh lagi. “Sabar” kataku dalam hati, mencoba untuk menentramkan diriku sendiri, “Toh ini bukan perjalananku yang pertama ke Jakarta”. Ya memang benar, ini bukan pertama kali aku ke Jakarta. (lebih…)

Read Full Post »


Saat aku mendapat kabar dari kepala sekolahku bahwa permohonan mutasiku dikabulkan, perasaanku seperti seorang musafir yang menemukan sebuah oasis di tengah padang pasir yang luas setelah berhari-hari tidak merasakan kesegaran setetes air. Keinginanku selama ini untuk menghabiskan lima tahun sisa masa kerjaku di kampung halamanku sendiri akhirnya menjadi kenyataan. Awalnya, istri dan anak-anakku keberatan dengan keputusanku untuk kembali ke kota kelahiranku. Alasan mereka sederhana karena kehidupan kami di kota ini sudah cukup nyaman. “Mau apa lagi?” kata istriku. “Kalau Mas kangen dengan keluarga toh setiap Lebaran kita selalu mudik ke sana.” Tetapi keputusanku sudah bulat. (lebih…)

Read Full Post »


Kiai Karim terdiam setelah mendengar cerita orang-orang yang datang ke rumahnya malam itu. Sebagai orang yang dituakan, dia selalu menjadi rujukan untuk dimintai pendapat jika ada suatu persoalan di desanya. Sebenarnya, ulama yang bernama lengkap Abdullah Karim ini, belumlah terlalu tua. Hanya saja, posisinya sebagai kiai menjadikan orang-orang menaruh hormat kepadanya. “Bagaimana, Kiai, pendapatnya?” tanya seorang tamunya menyadarkan Kiai Karim dari lamunan. “Masalah ini harus segera diambil keputusan karena waktu pelaksanaan khauli massal tinggal beberapa hari lagi, Kiai” kata seseorang yang lain. “Aku tahu. Tapi aku tidak bisa memutuskan sesuatu, apalagi menyangkut masalah pelik seperti ini, secara tergesa-gesa,” jawab Kiai Karim dengan tenang. “Beri aku waktu barang tiga hari untuk memutuskan masalah tersebut” lanjut Kiai Karim. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »