Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘cerpen’

Kodrah


Pak Wiryo gelisah. Sudah lima batang rokok ia habiskan untuk mengusir kegelisahannya. Namun, hatinya masih belum tenang. Sudah satu minggu ini dia tidak enak makan dan tidur. Bu Wiryo, istrinya, sampai bingung melihat kelakuan suaminya yang tidak seperti biasanya. Kalau ditanya, bukan jawabannya yang ia dapatkan, tapi justru desahan panjang atau umpatan yang tak jelas ujung pangkalnya.

—–

Pak Wiryo adalah lurah Kertosari, sebuah desa kecil namun dikenal sebagai desa penghasil padi terbaik di kabupaten. Beberapa kali Kertosari mendapat penghargaan sebagai desa swasembada beras. Di bawah kepemimpinan Pak Wiryo, Kertosari semakin maju dan terkenal karena kemakmuran dan keberhasilannya meraih prestasi di berbagai bidang.

Sebagai seorang lurah, Pak Wiryo dinilai berhasil oleh warganya sendiri. Oleh karena itu, banyak warga desa yang menghendaki agar Pak Wiryo mau mencalonkan diri lagi sebagai kepala desa pada kodrah lurah yang akan diselenggarakan tiga bulan lagi.

(lebih…)

Read Full Post »

Jiwa-Jiwa yang Kembali


Pagi yang cerah matahari tampak bersinar dengan indah. Warnanya yang keemasan terlihat begitu megah. Inilah hari yang penuh dengan barokah.

Ketika sebuah angkutan umum berhenti di seberang Alun-alun Batang, seorang anak perempuan turun dari angkutan tersebut dan berlari-lari keci menyeberangi jalan raya. Jilbab lebarnya berkibar ditiup angin. Ia tetap berjalan kemudian belok dan masuk ke sebuah gang.

“Zahra … tunggu Ra ..!” Tiba-tiba terdengar teriakan di belakangnya. Gadis yang bernama Zahra itu menoleh dan tersenyum melihat temannya tersengal-sengal setelah berlari.

“Olah raga ya?” candanya dengan senyum tetap tersungging di bibirnya.

(lebih…)

Read Full Post »

Aku Muhammad, Bukan Emek


Langit masih sendu. Dengan warna buram di wajahnya. Sebaliknya permukaan-permukaan bumi bertingkah riang. Membasahi diri dengan kristal-kristal air. Di atas permukaannya, seluruh makhluk mulai merangkak. Dan seakan-akan mereka menyambut kelahiran sang surya entah untuk yang ke berapa kalinya.

Di sebuah desa yang tenang. Desa yang masih bisa menjaga dirinya dari asap-asap hitam. Desa yang dibatasi oleh dua sungai sehingga hamparan sawah terbentang luas dengan pergantian dwi warna yang cepat. Desa Lawangaji begitulah namanya.

Seperti biasanya pada setiap pagi para petani di desa itu pergi ke sawah. Berduyun-duyun menyandang cangkul di pundaknya. Menghapus air mata rumput-rumput dengan ayunan kakinya. Tetapi tidak bagi pak Kasman. Langkah kakinya tidak menuju ke sawah melainkan di jalan desa yang beraspal dan terasa dingin. Derap-derap langkahnya begitu cepat sama sekali tak menghiraukan keadaan sekitarnya.

(lebih…)

Read Full Post »

Bib Ali


Di kota kecil yang menyimpan banyak kenangan sepanjang tarikan napasku ini tinggallah seorang ulama yang cukup disegani dan menjadi tempat meminta nasihat orang-orang yang tengah dirundung berbagai persoalan hidup. Namanya Habib Ali bin Yahya bin Ahmad Al Athas. Namun, orang-orang lebih sering memanggilnya dengan Bib Ali saja. Habib adalah panggilan untuk seorang ulama yang mempunyai garis keturunan menyambung dengan Nabi Muhammad. (lebih…)

Read Full Post »

Laut


Yang dilihatnya hanyalah gelombang yang menepi di hamparan pasir yang kemudian menghanyutkan lamunannya ke sebuah peristiwa 39 tahun silam ………..

***

Oktober 1965

(lebih…)

Read Full Post »

TERMINAL


Bus yang membawaku dari kota kelahiran menuju Jakarta terasa melambat ketika memasuki terminal Tegal. Matahari bersinar garang membuat kabin bus yang berisi penuh penumpang ke berbagai tujuan terasa seperti oven. Ditambah lagi dengan bau keringat para penumpang semakin membuatku ingin segera tiba di Jakarta. Namun, perjalanan masih separuh lagi. “Sabar” kataku dalam hati, mencoba untuk menentramkan diriku sendiri, “Toh ini bukan perjalananku yang pertama ke Jakarta”. Ya memang benar, ini bukan pertama kali aku ke Jakarta. (lebih…)

Read Full Post »


Saat aku mendapat kabar dari kepala sekolahku bahwa permohonan mutasiku dikabulkan, perasaanku seperti seorang musafir yang menemukan sebuah oasis di tengah padang pasir yang luas setelah berhari-hari tidak merasakan kesegaran setetes air. Keinginanku selama ini untuk menghabiskan lima tahun sisa masa kerjaku di kampung halamanku sendiri akhirnya menjadi kenyataan. Awalnya, istri dan anak-anakku keberatan dengan keputusanku untuk kembali ke kota kelahiranku. Alasan mereka sederhana karena kehidupan kami di kota ini sudah cukup nyaman. “Mau apa lagi?” kata istriku. “Kalau Mas kangen dengan keluarga toh setiap Lebaran kita selalu mudik ke sana.” Tetapi keputusanku sudah bulat. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »