Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Gestok’


Ibuku mempunyai kebiasaan yang menurutku cukup aneh setiap kali Lebaran tiba. Kubilang aneh karena kebiasaan itu berbeda dengan umumnya kebiasaan orang lain dalam menyambut Lebaran. Biasanya, orang-orang setiap selesai salat Idul Fitri bersilaturrahim ke rumah sanak-saudara yang masih hidup atau berziarah ke kuburan keluarga yang telah meninggal.

Tetapi tidak dengan ibuku. Setiap selesai salat Idul Fitri, ibu selalu mengajak seluruh anak-anaknya, aku dan dua kakak laki-lakiku, pergi ke laut. Ya, ke laut yang terletak sekitar lima belas menit perjalanan menggunakan sepeda motor dari rumahku. Tidak pernah ada yang berani membantah atau menentang kebiasaan ibu yang satu ini termasuk kedua kakak laki-lakiku.

Mereka sepertinya tidak memiliki keberanian untuk menentangnya. Bahkan, hanya untuk mempertanyakan alasannya saja mereka tidak berani. Padahal biasanya mereka paling malas jika harus mengantarkan ibu pergi. Hingga usiaku yang ke-16 ini, kebiasaan itu masih saja tetap dilakukan ibu tanpa ada yang pernah membantah atau menentangnya.

Sebenarnya tidak ada yang dilakukan ibuku saat di laut atau lebih tepatnya di pantai itu. Ibu hanya berdiri atau kadang duduk termenung menatap deburan ombak yang berkejar-kejaran sebelum akhirnya berlabuh di bibir pantai yang hitam. Bila sudah seperti itu, aku dan kakak-kakakku tidak ada yang berani mendekati ibu. Lebih tepatnya, tidak peduli dengan apa yang dilakukan ibu.

(lebih…)

Read Full Post »

Laut


Yang dilihatnya hanyalah gelombang yang menepi di hamparan pasir yang kemudian menghanyutkan lamunannya ke sebuah peristiwa 39 tahun silam ………..

***

Oktober 1965

(lebih…)

Read Full Post »


Saat aku mendapat kabar dari kepala sekolahku bahwa permohonan mutasiku dikabulkan, perasaanku seperti seorang musafir yang menemukan sebuah oasis di tengah padang pasir yang luas setelah berhari-hari tidak merasakan kesegaran setetes air. Keinginanku selama ini untuk menghabiskan lima tahun sisa masa kerjaku di kampung halamanku sendiri akhirnya menjadi kenyataan. Awalnya, istri dan anak-anakku keberatan dengan keputusanku untuk kembali ke kota kelahiranku. Alasan mereka sederhana karena kehidupan kami di kota ini sudah cukup nyaman. “Mau apa lagi?” kata istriku. “Kalau Mas kangen dengan keluarga toh setiap Lebaran kita selalu mudik ke sana.” Tetapi keputusanku sudah bulat. (lebih…)

Read Full Post »


Kiai Karim terdiam setelah mendengar cerita orang-orang yang datang ke rumahnya malam itu. Sebagai orang yang dituakan, dia selalu menjadi rujukan untuk dimintai pendapat jika ada suatu persoalan di desanya. Sebenarnya, ulama yang bernama lengkap Abdullah Karim ini, belumlah terlalu tua. Hanya saja, posisinya sebagai kiai menjadikan orang-orang menaruh hormat kepadanya. “Bagaimana, Kiai, pendapatnya?” tanya seorang tamunya menyadarkan Kiai Karim dari lamunan. “Masalah ini harus segera diambil keputusan karena waktu pelaksanaan khauli massal tinggal beberapa hari lagi, Kiai” kata seseorang yang lain. “Aku tahu. Tapi aku tidak bisa memutuskan sesuatu, apalagi menyangkut masalah pelik seperti ini, secara tergesa-gesa,” jawab Kiai Karim dengan tenang. “Beri aku waktu barang tiga hari untuk memutuskan masalah tersebut” lanjut Kiai Karim. (lebih…)

Read Full Post »

Pertemuan


“Jeng Wid, di luar banyak orang yang tidak dikenal lho!” kata Bu Sri “Kelihatannya maksud mereka tidak baik. Saya khawatir, Jeng!”. Orang yang dipanggil Jeng Wid itu tidak bereaksi apa-apa. Dia hanya melirik jam tangannya. “Masih ada waktu satu jam untuk siap-siap” pikirnya dalam hatinya. “Bu Sri, tolong hubungi lagi Komnas Perempuan” perintahnya. “Pastikan siapa yang bisa hadir di sini.” Yang diperintah, segera mengambil ponselnya. Tidak lama kemudian, “Dari Komnas nanti yang hadir Mbak Ruth. Sekarang masih dalam perjalanan ke sini.” terang Bu Sri menyampaikan laporan. Jeng Wid kemudian berlalu menuju pintu depan gedung pertemuan yang tidak terlalu besar itu. (lebih…)

Read Full Post »